Letusan Gunung Tambora 1815

posted in: buku | 0

Letusan Tambora pada tahun 1815 jadi fenomena alam yang fenomenal tahun ini. Fenomenal karena tahun 2015 ini adalah 200 tahun letusan Tambora 1815 itu.  Letusan Tambora pada 1815 itu dipercaya sebagai letusan gunungapi terbesar yang tercatat dalam sejarah modern. Letusan Tambora ini bukan hanya berdampak pada daerah sekitar Sumbawa, pulau dimana Tambora berada, tetapi juga hingga ke bumia bagian utara dan Eropa. Kita coba bedah salah satu buku yang membahas tidak hanya letusan Tambora tapi juga sisi lain dari Tambora.

Secara umum buku menarik ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah tulisan dari Bernice de Jong Boers. Bagian pertama ini menampilkan terjemahan tulisan terkenal dari de Jong Boers “Mount Tambora in 1815 : a Volcanic Eruption and Its Aftermath”. De Jong Boers adalah peneliti berkebangsaan Belanda dengan spesialisasi dalam bidang Antropologi.

Tulisan kedua adalah tulisan dari Helius Sjamsuddin yang merupakan guru besar Ilmu Sejarah di Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan beliau juga menarik karena membahas Tambora sebagai caesure sejarah. Beliau memposisikan Tambora sebagai bagian pemisah dramatik antara Sumbawa sebelum dan sesudah erupsi Tambora tahun 1815 itu.

Dan yang spesial dari buku ini adalah tulisan dari Andrian B. Lapian yang membahas kaitan erupsi gunungapi dengan perubahan sejarah. Misalnya berpindahnya ibukota kerajaan akibat letusan gunungapi. Dalam bahsan ini diceritakan pindahnya ibukota kolonial saat itu ke Cilegon akibat Letusan Krakatau 1883. Bahkan diceritakan dalam tulisan ini ada kaitan antara letusan krakatau 1883 terhadap kebijakan pemerintahan Hindia-Belanda 5 tahun setelahnya akibat adanya pemberontakan petani.

. . ada kaitan antara letusan krakatau 1883 terhadap kebijakan pemerintahan Hindia-Belanda 5 tahun . .

Ketiga tulisan menarik ini bisa kita nikmati dalam satu buku. Ditulis secarat singkat namun padat  yang membuat buku ini menarik. Buku ini bisa menjadi teman kita di kala sore dan menambah khazanah kita tentang Tambora dan besarnya pengaruh erupsi gunungapi terhadap  arus sejarah. (gaj)

 

bukunya di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *